Mengatasi rintangan besar dalam perang melawan narkoba di Indonesia

Penyalahgunaan dan perdagangan narkoba telah menyeret Indonesia ke dalam situasi yang lebih serius, karena beberapa aparat negara dinyatakan bersalah melakukan kejahatan narkoba. Alih-alih bergabung dengan mereka yang berada di garis depan dalam perang melawan narkoba yang tak berkesudahan, beberapa pegawai negeri sipil dan polisi malah melakukan pelanggaran narkoba.

Selama dua tahun terakhir, beberapa polisi dan pegawai negeri telah ditangkap dan diberhentikan dari dinas pemerintah atas kasus penyalahgunaan dan perdagangan narkoba. Seorang petugas Lapas Kelas II A Tembilahan di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, baru-baru ini diberhentikan karena kasus peredaran narkoba.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Tembilahan Julianto Budhi Prastyono mengatakan, pemecatan petugas Lapas itu diumumkan dalam roll call yang digelar awal pekan ini.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Tembilahan telah memvonis petugas penjara berinisial H itu dengan hukuman empat tahun penjara berdasarkan putusan mereka pada tahun 2017.

Seorang petugas polisi dari Polres Mengwi di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, juga telah mendapatkan terlibat dalam transaksi narkoba. Dia ditangkap di Denpasar pada 8 Mei 2021.

Akibatnya, dia kemudian diberhentikan dari tugasnya sebelum diberhentikan dari dinas kepolisian, menurut Kapolres Badung, Ajun Komisaris Besar. Roby Septiadi.

Dia tidak membocorkan identitas polisi itu. Saat ditangkap, Sat Narkoba Polres Denpasar menyita 84 gram sabu darinya.

Pada Mei tahun ini indeks berita mengabarkan Badan Narkotika Nasional (BNN) juga telah menangkap seorang polisi di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, atas tuduhan mengedarkan narkoba selama lima tahun.

Petugas tersebut bernama Ajun I ES, 43, Kepala Kantor BNN-Bengkulu Brigjen. Jenderal Toga Habinsar Panjaitan, telah menyatakan pada 25 Mei 2021.

Pada Februari tahun ini, Divisi Dalam Negeri (Propam) Polda Jabar juga telah menahan 12 polisi, termasuk Kapolda Astanaanyar, atas dugaan konsumsi narkotika.

Pada November tahun lalu, seorang perwira polisi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, dipecat karena keterlibatannya dalam kasus narkoba.

Pada Juni tahun lalu, seorang polisi lainnya ditangkap karena mengonsumsi narkoba di sebuah hotel di Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Polisi, yang diidentifikasi sebagai EW, dan tiga orang lainnya dilaporkan tertangkap sedang mengonsumsi sabu selama penggerebekan dan ditempatkan di bawah tahanan polisi. Dari mereka juga disita sebanyak 19 gram sabu.

Menyikapi kenyataan yang menantang ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan Propam Polri untuk menindak tegas oknum polisi yang terlibat kasus narkoba.

Di tengah perang narkoba yang sedang berlangsung oleh polisi dan lembaga penegak hukum lainnya, Kementerian Perhubungan Indonesia terkejut dengan penangkapan salah satu pegawai negerinya tahun lalu.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Bandara Ngurah Rai Bali ditangkap petugas keamanan Bandara Internasional Hang Nadim Provinsi Kepulauan Riau pada 22 Agustus 2020. Dia teridentifikasi seperti Reno Dwi Putra, yang ditangkap bersama teman perempuannya karena diduga membawa tiga kilogram sabu dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, ke Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur.

Putra memberi tahu penyidik ​​polisi bahwa dia telah berhasil membawa paket sabu sebanyak tiga kali di berbagai bandara sejak dia mengenakan seragam resmi Kementerian Perhubungan dan kartu identitas.

Kementerian Perhubungan memuji personel keamanan Bandara Internasional Hang Nadim di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, karena menangkap Putra atas upaya penyelundupan paket sabu seberat tiga kilogram.

Kementerian Perhubungan menyatakan kekecewaan atas terungkapnya upaya penyelundupan oleh pegawai negeri sipil Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan memuji personel keamanan penerbangan bandara, kata juru bicara kementerian, Adita Irawati, dalam keterangan pers tahun lalu.

Saat ditangkap aparat keamanan Bandara Hang Nadim, PNS tersebut mengenakan pakaian dinas dinas. Namun, dia tidak benar-benar melakukan perjalanan bisnis, katanya.

Irawati yakin penangkapan Putra akan membantu memutus rantai operasi penyelundupan narkoba dan juga akan membuka mata dan pelajaran yang baik bagi orang lain.

Penangkapan aparat negara tersebut atas tindak pidana narkoba kembali menunjukkan bahwa
Indonesia memang tetap berada di bawah ancaman serius dari pengedar narkoba, karena siapa pun bisa terjebak dalam lingkaran setan lingkaran narkoba.

Kejadian-kejadian seperti itu merupakan alarm bagi Indonesia, tetapi warga negara harus dengan segala cara memenangkan perang melawan narkoba demi keselamatan bangsa dan kejayaan masa depan pada tahun 2045.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *